Selasa, 02 Oktober 2018

Resensi Puisi Jejak Jerit di Tambun Bungai



 
   Judul Buku : Jejak Jerit di Tambun Bungai
                                                 Pengarang :  1. Elis Setiati
          2. Imam Qalyubi
          3. Lukman Juhara
          4. Mohammad Alimulhuda
          5. Noor Hadi
            Penerbit : Cerah Budaya Indonesia
            Tahun Penerbit : 2018
            Tebal Buku : 129 halaman
            ISBN : 978-602-0812-27-4
            Resensi : Hairatul Hasanah
            Judul Resensi : Suara Hati Dari Negeri Borneo
Dalam buku kumpulan puisi yang dibuat dari beberapa penulis puisi yang terkenal di kalimantan tengah ini memiliki berbagai macam puisi, karangan, dan karya-karya yang telah mereka tuangkan didalam buku ataupun puisi lainnya. Salah satu penulis resensi tertarik mengambil judul buku “Jejak Jerit di Tambun Bungai”. Didalam buku ini diceritakan bagaimana kehidupan masyarakat tentang kesenjangan sosial, gambaran mengenai dinamika kehidupan dalam ruang dan waktu yang memperdebatkan kebenaran dan keadilan, menyajikan realita tentang cerut-marutnya pengelolaan kebijakan dan administrasi, menceritakan sumigran yang ulet, gigih dan peduli terhadapa kelestarian lingkungan, selanjutnya dibuku ini menceritakan bahwa anak tidak hanya bisa baca tulis namun juga harus bisa mempersiapkan anak-anak yang memahami dan menguasai ilmu pengetahuan teknologi. Menceritakan kota yang ada diKalimantan Tengah dari awal hingga terjadi perubahan sampai seperti sekarang, dan didalamnya juga memuat sebuah konflik.
Judul puisi pertama dari buku tersebut adalah “air mata literasi” karya Elis Setiati, dalam puisi esai tersebut penulis mengungkapkan kata demi kata yang ditulis, dan yang disampaikan dalam puisi ini membuat hati penulis miris, resah akan bagaimana kemajuan bangsa ini jika seandainya tidak ada seseorang yang memiliki kesadaran akan pentingnya budaya literasi dan membaca, sedangkan kemajuan teknologi zaman sekarang semakin pesat. Kita patut mencontohi tokoh yang ada didalam puisi tersebut, Ia memiliki konep mulia “kami berpartisipasi mencerdaskan masyarakat Kalimantan Tengah khususnya dan indonesia pada umumnya”, tidakkah sangat mulia konsep atau cita-cita dari tokoh dalam puisi tersebut? Maka dari itu untuk generasi muda harus melanjutkan konsep mulia dari tokoh dalam puisi tersebut.
Judul puisi kedua dari buku adalah “jerit kahayan” karya Imam Qalyubi, dalam puisi ini kata demi kata, kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh penulis puisi ini sungguh sangat dengan perasaan dan dengan tutur kata yang indah penuh penghayatan, kata demi kata yang dituturkan juga sangat puitis. Sebagian didalam puisi ini juga menceritakan senjata-senjata, dan tradisi khas dari Kalimantan yang membuat kita bisa menambah ilmu pengetahuan. Sedangkan Judul puisi ketiga dari buku adalah “jejak sumigran, jejak tranmigran” karya Lukman Juhara, dari puisi tersebut penulis mengungkapkan kalimat-kalimat yang dituturkan dalam puisi tersebut sungguh menyentuh hati dan membuat kita sadar betapa sakit dan sedih menjadi seorang sumigran yang tersisih dari kampung halamannya, namun apalah daya kehidupan harus terus berjalan meskipun hati enggan untuk melakukannya. Dari puisi tersebut kita belajar bahwa hidup itu keras bagaikan aspal jalanan yang apabila kita terjatuh disana kita bisa terluka, baik luka kecil ataupun luka besar. Penulis mengutip sebuah kalimat puisi yang mana kalimat ini memiliki arti yang besar untuk penulis resensi “Tiada bahagia tanpa berawal derita. Tiada sejahtera tanpa kerja nyata”.
Selanjutnya judul puisi keempat dari buku adalah “pleido” karya Mohammad Alimulhuda, dari puisi tersebut penulis mengungkapkan rasa marah, sedih, dan benci dari dalam lubuk hati yang paling dalam, membuat pembacanya merasa tegang dalam suatu pertentang dari sebuah puisi tersebut, didalam puisinya ini berisi pro dan kontra, masing-masing merasa dirinya lah yang paling benar. Dari kalimat-kalimat yang penulis puisi tuturkan sungguh akan menimbulkan empati didalam hati sang pembaca nantinya, setiap kata yang dihembuskan dapat menimbulkan penghayatan dan terbawa suasana tegang, sedih, dan gundah yang mendalam ketika kita membacanya. Berbeda dengan puisi terakhir dari buku ini, yaitu karangan Noor Hadi yang berjudul “Senja di Bumi Tambun Bungai”. Ia mengungkapkan sebuah cerita pulau Kalimantan, yaitu Kalimantan Tengah khususnya Kota Palangkaraya yang biasa disebut Kota Cantik awalnya masih banyak hutan belantara, dan jika kita ingin hidup lebih baik maka kita harus rela meninggalkan kampung halaman dan pergi kekota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Dalam puisi isi mengungkapkan sebuah pertikaian yang saat ini diperdebatkan yaitu seperti masalah perebutan dan keserakahan dalam hal kepemilikan tanah atau sengketa tanah dan hal ini menimbulkan kekacauan yang menyeruak dan keriuhan dimana-mana. Dalam puisi ini, bahasanya sangat jelas dalam tujuan penyampaiannya dan bahasanya sangat mudah dipahami untuk masyarakat yang membacanya dan mudah dihayati untuk para pencinta puisi.
tanah tak bertuan menjadi bertuan
dibekali persuratan
mulai jadi rebutan
penyerobotan pun tak terelakkan”
Dari buku puisi esai provinsi Kalimantan Tengah ini, buku ini sangat bagus untuk penulis puisi, peresensi buku, atau hanya sekedar membacanya saja, karena didalamnya terkandung pesan-pesan moral, nasihat yang cukup bermanfaat untuk kita membenahi diri masing-masing, dan bagi pembaca yang sulit memahami isi kata-kata atau bahasa dalam puisi ini, maka jangan kwuatir karena didalam buku ini dibagian paling bawah disediakan footnote untuk penjelasan kata atau bahasa asing atau bahasa daerah yang mereka gunakan, didalam buku ini ada penjelasannya. Jadi untuk pembaca akan lebih mudah lagi memahaminya. Selain itu yang peresensi lihat didalam buku ini, mungkin hanya ada beberapa kesalahan kecil yang tidak begitu penting, seperti halnya kesalahan satu huruf dalam katanya, bait puisi yang terpotong ke halaman selanjutnya, ada beberapa kalimat yang seperti itu. Tetapi, itu tidak menjadi masalah yang fatal menurut peresensi, dan mungkin ini hanya saran saja sebutannya untuk para penulis puisi, jika mengutip sebuah kata-kata bijak atau pesan-pesan moral hendaknya dicetak miring saja dan diberi tanda kutip (“....”) supaya menjadi pembeda dalam sebuah isi kalimat puisi.
Kesimpulannya dari buku puisi esai provinsi Kalimantan Tengah ini sangatlah bagus untuk pengajaran kita, sebagai menambah ilmu pengetahuan bahwa lingkungan itu sangatlah penting untuk mereka, berisi curahan hati masyarakat pedalaman. Terlihat dari judul-judul yang dibawakan saja sudah menarik. Selain itu dari sampul depan saja kita pasti sudah bertanya-tanya apa sih isi dari buku ini. Bahasa yang ada didalam buku ini pun sangatlah puitis dan jelas, itu menjadi daya tarik dari buku ini serta arah dan tujuannya jelas.


HAIRATUL HASANAH,
Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sekarang sedang berada disemester awal/ganjil. Lahir di sebuah desa yang bernama Desa Patai Kec.Cempaga Kab.Kotawaringin Timur pada tanggal 28 November 2000. Sejak kecil tinggal di desa Patai, menamatkan sekolah dasar di SDN 2 PATAI, sekolah menengah SMPN 7 CEMPAGA dan sekolah kejuruan SMKN 1 CEMPAGA. Sekarang berdomisili di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.




































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

100 Mimpiku