Judul Buku : Jejak Jerit di Tambun Bungai
Pengarang : 1. Elis Setiati
2.
Imam Qalyubi
3.
Lukman Juhara
4.
Mohammad Alimulhuda
5.
Noor Hadi
Penerbit : Cerah Budaya Indonesia
Tahun Penerbit : 2018
Tebal Buku : 129 halaman
ISBN : 978-602-0812-27-4
Resensi : Hairatul Hasanah
Judul Resensi : Suara Hati Dari Negeri Borneo
Judul Resensi : Suara Hati Dari Negeri Borneo
Dalam buku kumpulan
puisi yang dibuat dari beberapa penulis puisi yang terkenal di kalimantan
tengah ini memiliki berbagai macam puisi, karangan, dan karya-karya yang telah
mereka tuangkan didalam buku ataupun puisi lainnya. Salah satu penulis resensi
tertarik mengambil judul buku “Jejak
Jerit di Tambun Bungai”. Didalam buku ini diceritakan bagaimana kehidupan
masyarakat tentang kesenjangan sosial, gambaran mengenai dinamika kehidupan
dalam ruang dan waktu yang memperdebatkan kebenaran dan keadilan, menyajikan
realita tentang cerut-marutnya pengelolaan kebijakan dan administrasi,
menceritakan sumigran yang ulet, gigih dan peduli terhadapa kelestarian
lingkungan, selanjutnya dibuku ini menceritakan bahwa anak tidak hanya bisa
baca tulis namun juga harus bisa mempersiapkan anak-anak yang memahami dan
menguasai ilmu pengetahuan teknologi. Menceritakan kota yang ada diKalimantan
Tengah dari awal hingga terjadi perubahan sampai seperti sekarang, dan
didalamnya juga memuat sebuah konflik.
Judul puisi pertama
dari buku tersebut adalah “air mata
literasi” karya Elis Setiati, dalam puisi esai tersebut penulis
mengungkapkan kata demi kata yang ditulis, dan yang disampaikan dalam puisi ini
membuat hati penulis miris, resah akan bagaimana kemajuan bangsa ini jika
seandainya tidak ada seseorang yang memiliki kesadaran akan pentingnya budaya
literasi dan membaca, sedangkan kemajuan teknologi zaman sekarang semakin
pesat. Kita patut mencontohi tokoh yang ada didalam puisi tersebut, Ia memiliki
konep mulia “kami berpartisipasi
mencerdaskan masyarakat Kalimantan Tengah khususnya dan indonesia pada umumnya”,
tidakkah sangat mulia konsep atau cita-cita dari tokoh dalam puisi tersebut?
Maka dari itu untuk generasi muda harus melanjutkan konsep mulia dari tokoh
dalam puisi tersebut.
Judul puisi kedua dari
buku adalah “jerit kahayan” karya
Imam Qalyubi, dalam puisi ini kata demi kata, kalimat demi kalimat yang
dilontarkan oleh penulis puisi ini sungguh sangat dengan perasaan dan dengan
tutur kata yang indah penuh penghayatan, kata demi kata yang dituturkan juga
sangat puitis. Sebagian didalam puisi ini juga menceritakan senjata-senjata,
dan tradisi khas dari Kalimantan yang membuat kita bisa menambah ilmu
pengetahuan. Sedangkan Judul puisi ketiga dari buku adalah “jejak sumigran, jejak tranmigran” karya Lukman Juhara, dari puisi
tersebut penulis mengungkapkan kalimat-kalimat yang dituturkan dalam puisi
tersebut sungguh menyentuh hati dan membuat kita sadar betapa sakit dan sedih
menjadi seorang sumigran yang tersisih dari kampung halamannya, namun apalah
daya kehidupan harus terus berjalan meskipun hati enggan untuk melakukannya. Dari
puisi tersebut kita belajar bahwa hidup itu keras bagaikan aspal jalanan yang
apabila kita terjatuh disana kita bisa terluka, baik luka kecil ataupun luka
besar. Penulis mengutip sebuah kalimat puisi yang mana kalimat ini memiliki
arti yang besar untuk penulis resensi “Tiada
bahagia tanpa berawal derita. Tiada sejahtera tanpa kerja nyata”.
Selanjutnya judul puisi
keempat dari buku adalah “pleido”
karya Mohammad Alimulhuda, dari puisi tersebut penulis mengungkapkan rasa
marah, sedih, dan benci dari dalam lubuk hati yang paling dalam, membuat
pembacanya merasa tegang dalam suatu pertentang dari sebuah puisi tersebut,
didalam puisinya ini berisi pro dan kontra, masing-masing merasa dirinya lah
yang paling benar. Dari kalimat-kalimat yang penulis puisi tuturkan sungguh
akan menimbulkan empati didalam hati sang pembaca nantinya, setiap kata yang
dihembuskan dapat menimbulkan penghayatan dan terbawa suasana tegang, sedih,
dan gundah yang mendalam ketika kita membacanya. Berbeda dengan puisi terakhir
dari buku ini, yaitu karangan Noor Hadi yang berjudul “Senja di Bumi Tambun Bungai”. Ia mengungkapkan sebuah cerita pulau
Kalimantan, yaitu Kalimantan Tengah khususnya Kota Palangkaraya yang biasa
disebut Kota Cantik awalnya masih banyak hutan belantara, dan jika kita ingin
hidup lebih baik maka kita harus rela meninggalkan kampung halaman dan pergi
kekota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Dalam puisi isi mengungkapkan
sebuah pertikaian yang saat ini diperdebatkan yaitu seperti masalah perebutan
dan keserakahan dalam hal
kepemilikan tanah atau sengketa tanah dan hal ini menimbulkan kekacauan yang
menyeruak dan keriuhan dimana-mana. Dalam puisi ini,
bahasanya sangat jelas dalam tujuan penyampaiannya dan bahasanya sangat mudah
dipahami untuk masyarakat yang membacanya dan mudah dihayati untuk para
pencinta puisi.
“tanah tak bertuan menjadi bertuan
dibekali
persuratan
mulai
jadi rebutan
penyerobotan pun tak terelakkan”
Dari buku puisi esai provinsi
Kalimantan Tengah ini, buku ini sangat bagus untuk penulis puisi, peresensi
buku, atau hanya sekedar membacanya saja, karena didalamnya terkandung pesan-pesan
moral, nasihat yang cukup bermanfaat untuk kita membenahi diri masing-masing,
dan bagi pembaca yang sulit memahami isi kata-kata atau bahasa dalam puisi ini,
maka jangan kwuatir karena didalam buku ini dibagian paling bawah disediakan
footnote untuk penjelasan kata atau bahasa asing atau bahasa daerah yang mereka
gunakan, didalam buku ini ada penjelasannya. Jadi untuk pembaca akan lebih
mudah lagi memahaminya. Selain itu yang peresensi lihat didalam buku ini,
mungkin hanya ada beberapa kesalahan kecil yang tidak begitu penting, seperti
halnya kesalahan satu huruf dalam katanya, bait puisi yang terpotong ke halaman
selanjutnya, ada beberapa kalimat yang seperti itu. Tetapi, itu tidak menjadi
masalah yang fatal menurut peresensi, dan mungkin ini hanya saran saja
sebutannya untuk para penulis puisi, jika mengutip sebuah kata-kata bijak atau
pesan-pesan moral hendaknya dicetak miring saja dan diberi tanda kutip (“....”)
supaya menjadi pembeda dalam sebuah isi kalimat puisi.
Kesimpulannya dari buku
puisi esai provinsi Kalimantan Tengah ini sangatlah bagus untuk pengajaran
kita, sebagai menambah ilmu pengetahuan bahwa lingkungan itu sangatlah penting
untuk mereka, berisi curahan hati masyarakat pedalaman. Terlihat dari
judul-judul yang dibawakan saja sudah menarik. Selain itu dari sampul depan
saja kita pasti sudah bertanya-tanya apa sih isi dari buku ini. Bahasa yang ada
didalam buku ini pun sangatlah puitis dan jelas, itu menjadi daya tarik dari
buku ini serta arah dan tujuannya jelas.
HAIRATUL HASANAH,
Mahasiswa
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sekarang
sedang berada disemester awal/ganjil. Lahir di sebuah desa yang bernama Desa
Patai Kec.Cempaga Kab.Kotawaringin Timur pada tanggal 28 November 2000. Sejak
kecil tinggal di desa Patai, menamatkan sekolah dasar di SDN 2 PATAI, sekolah
menengah SMPN 7 CEMPAGA dan sekolah kejuruan SMKN 1 CEMPAGA. Sekarang
berdomisili di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar